Anas Puisi

Wahai Guru

 

Tlah tercipta cita

Walau berat asa di dada,

Kau rangkul dengan kesabaran

Hingga terkalahkan rasa

 

Dulu,

Otakku yang polos tak mengerti

Kau tuntun dan kau beri

Dengan ketulusan murni sanubari

 

Kini,

Otakku padat berisi

Pikirku mulai mengerti, dan

Citaku mulai berdiri

 

Kutahu,

Di ronggamu cita negri ini

Di pundakmu pula bersanding keutuhan bangsa

Perjuanganmu amat terjal berliku

 

Tapi,

Karna ini semangatmu kian menjadi

Ketulusan dan kesabaranmu abadi

 

Wahai Guru,

Tiada henti kau mengabdi

Membuatku yakin

Kaulah pahlawan sejati

 

 

By : Anas Ariffudin

Sebuah Arti

Malam gulita menyelimuti indahnya mimpi. sebuah keluarga yang harmonis dan damai itulah mimpi terindahku malam ini. suara kokok ayam perlahan menabuh gendang telingaku mimpi pun mulai menghilang dari benakku. hari ini aku bangun begitu pagi, ku rapikan tempat tidur mengambil air wudhu dan sholat. setelah mandi kukenakan seragam putih-abu-abu kebesaranku. setelah persiapan lengkap aku menuju ruang makan untuk makan bersama ayah dan ibu.

“Yah, Bu, Ninda berangkat dulu ya?” sambil mencium tangan ayah aku pamitan

“lho..kok makanannya ngak dihabisin, Nin?” Tanya ibu yang sedang mengunyah campuran nasi dan lauk.

“Ninda udah kenyang kok” sembari memegang perut ku jawab pertanyaan ibu

“ya sudah, hati-hati dijalan!” pesan ibu

“Yah, ibu juga pamitan, biar ngak telat sampai kantor” sambil mencangklongkan tas ibu pamitan pergi bekerja sedangkan ayah menjaga dan mengurusi rumah. pokoknya semua pekerjaan rumah ayahlah yang sekarang mengurusi.

Sesampainya di sekolah ternyata belum satu pun teman sekelasku yang kelihatan. Meja dan kursi masih kesepian menunggu makhluk yang akan menempatinya. Dari pada ngelamun lebih baik belajar ya ngak? hari ini ada salah satu mata pelajaran yang sering bikin aku pusing kepala, Bahasa Indonesia sekilas memang tampak mudah tapi bagi aku BI adalah salah satu pelajaran yang membingungkan. siapa tahu dengan belajar walau cuma sedikit bisa merubah otakku.

Menit demi menit berlalu..

“doorrr” Erna dan Sofi datang sembunyi-sembunyi dan mengageti aku

“eit..kaget tahu” aku kaget bukan kepalang, lagi konsentrasi belajar malah dikageti tanpa permisi kagetkan jadinya!

“habis dari tadi kamu melamun terus, sedang apa sich?” Tanya Sofi sambil memperlihatkan wajah lucunya.

“baca buku apa sich?” sambil memegang buku yang aku baca Erni mengintrogasi
“Bahasa Indonesia! kenapa? Itu artinya aku sedang be-la-jar” dengan pasang muka judes aku meyakinkan mereka.

“ngak biasanya kamu pakem seperti ini, ada apa sich Nin?” si crewet Erna bertanya lagi

“mulai detik ini aku pengen belajar serius. Ini semua aku lakukan agar orang tuaku tidak merasa sia-sia menyekolahkan aku.” jelasku

“O….. taubat nich ceritanya, baguslah kalau begitu” dengan nada nyindir Sofi memuji. Wah jadi bingung disindir ato dipuji? tau ah.

“Tet…tet…tet” terdengar suara bel dari pengeras. 1 menit lagi jam pelajaran akan dimulai, tapi teman satu kelasku tak di dalam kelas mereka malah asyik-asyikan nongkrong di depan kelas. Seperti biasa mereka selalu ngegosip tak jelas ya bisa diibaratkan pasar pagi di sekolah.

“Klotak..klotak…” terdengar suara sepatu yang dilangkahkan dengan tegap. walau masih terdengar jauh tapi temen-temenku sudah hafal betul siapa orang yang memakai sepatu tersebut. Dia adalah bu Susi, teman-temanku yang sedang nongkrong langsung buyar tak karuan. hanya dengan sekejap mereka sudah duduk rapi di dalam kelas.

“pagi anak-anak!” Tanya bu Susi saat masuk kelas

“pagi…bu” koor teman-teman menjawab sapaan dari bu Susi.

“Sekarang kumpulkan modul dan buku catatan bahasa Indonesia kalian” perintah bu Susi

“ada apa sich bu?” Tanya Gilang, temen sekelasku yang terkenal usil

“hari ini ibu akan adakan ulangan!” jawab bu Susi tegas

“waaaaah! kami belum belajar bu” koor teman-temanku menjawab penuh rasa keluh. seperti biasa teman-temanku selalu tidak siap kalau ada ulangan dadakan

“ibu memang sengaja adakan ulangan dadakan, ibu hanya ingin mengetahui sejauh mana kemampuan kalian menerima materi yang telah ibu berikan, jelas anak-anak!”

“jelas bu” jawab semua temanku yang tak dapat menolak permintaan bu Susi. Setelah itu bu Susi pun langsung membagikan soal ulangannya. Kami hanya diberi waktu 45 menit untuk mengerjakan 10 soal esay dari bu Susi. Entah apa yang telah terjadi denganku, kali ini aku bisa mengerjakan semua soal itu dengan lancar tanpa sedikit pun mengalami kesulitan. mungkin saja karena niatku ingin serius menjadikan aku bisa mengerjakan semua soal ini, yang jelas ini adalah takdir Ilahi. Menit demi menit pun terlampaui..

“Srek..srek..srek” terdengar suara kertas yang sedang dimain-mainkan. kucoba mencari sumber suara itu ternyata mengarah ke tempat duduk Gilang. Ternyata benar, dialah yang menimbulkan suara itu. sepertinya dia tak bisa mengerjakan soal ulangan ini. Sesekali tampak dari wajahnya suatu rasa putus asa dan pasrah.

“mungkin dia belum belajar” kataku dalam hati. Kutengok wajah teman yang lain. Buuzzeett aku sangat kaget, ternyata bukan hanya Gilang yang tidak mengerjakan soa tapi sebagian besar teman di kelasku juga tidak mengerjakan soal itu.

“sitc” Sofi memberi kode padaku, perlahan kucoba menoleh kearahnya.

“soal no satu?” Tanya temenku ini dengan nada rendah. sekejap aku langsung tahu apa yang ia maksud. aku pun langsung memberinya bantuan.

“Suatu….”
“Sofi..! sedang apa kamu!” bu Susi memotong perkataanku sembari memberi peringatan pada Sofi. aku pun kaget takut ketahuan.

“Sedang mengerjakan soal bu!” jawabnya pelan sambil pringas-pringis dan pura-pura tidak melakukan apa pun selain mengerjakan soal itu. Setelah peringatan itu Sofi langsung terdiam kali ini dia tak bisa melakukan apa-apa lagi.

“Kasihan Sofi, pasti dia juga belum belajar” untaian kata bergulir begitu saja dalam sanubariku.
Tanpa terasa waktu 45 menit telah berlalu ini artinya waktu mengerjakan soal pun telah selesai.

“waktu kalian habis! sekarang kumpulkan pekerjaan kalian!” perintah bu Susi. Tanpa basa-basi semua langsung mengumpulkan pekerjaannya masing-masing, ya.. walau masih banyak soal yang belum terjawab. Sepeti biasa kalau ada yang sampai telat mengumpulkan maka yang bersangkutan tidak akan mendapat nilai sepeser pun dari bu Susi. Setelah semuanya terkumpul bu Susi langsung mengoreksinya.

“saya sangat kecewa dengan pekerjaan kalian. Dari hasil kalian ini ibu jadi tahu kalau materi yang saya berikan selalu tidak digubris, apa ibu yang kurang jelas dalam memberikan materi ini? kalian bisa bayangkan dari 40 siswa dikelas ini yang nilainya lebih dari 6,5 hanya satu orang. kalau dibandingkan dengan kelas yang lain kelas ini sudah terpandang paling baik tapi mengapa bisa jadi seperti ini? hanya kalian yang bisa memperbaiki kelas ini! ingat kata-kata ibu tadi.” semua warga di kelasku hanya bisa terdiam mendengarkan ceramah dari bu Susi.

“terus yang nilainya baik siapa bu?” Tanya Gilang penasaran

“dia adalah Ninda” jawab bu Susi sambil menyerahkan lembar jawabanku

“dan untuk yang lain minggu depan ibu akan adakan remidi, pagi anak-anak?” bu Susi pun meninggalkan kelas setelah bel istirahat berbunyi.

Semua kaget dengan nilai yang kudapat tadi

“dapet contekan darimana kamu Nin?” tanya Erni

“huss, enak aja kamu bilang nyontek kamu tahu sendirikan tadi pagi aku baca apa!” jelasku

Selama ini aku memang termasuk dalam kategori siswa yang selalu remidi dalam ulangan maklumlah selama ini aku kebanyakan main. Tapi sekarang aku sadar bahwa untuk meraih impianku haruslah dengan usaha keras.

Hari ini adalah hari yang paling menggembirakan.

“pokoknya Ayah dan ibu harus tahu nilai ulanganku ini” sambil memegang kertas ulanganku terucaplah satu niat yang menggebu dalam hati. Tak terasa bel panjang tanda pulang sekolah bergulir di telinga. Niatku sebentar lagi akan kesampaian.

Dalam perjalanan pulang Doni menghampiriku

“Siang cintaku, tumben sendirian kemana Sofi dan Erni?” tanya Doni

“mereka pulang duluan, jadi aku sendiri deh” jawabku datar.

“kan sekarang ada aku yang setia menjaga sang kekasih” doni memang pandai berguarau.

Setelah ada Doni kini perjalananku jadi menyenangkan. Jika bicara soal makhluk yang satu ini aku jadi ingat saat pertama kita jadian dulu.

Sekitar tiga bulan yang lalu aku kenal dengan Doni. aku kenal dia lewat perkenalan yang diperantarai Sofi. Sejak saat itu entah apa yang telah terjadi padaku setiap berpapasan dengannya perasaan jadi tak menentu. tapi aku berusaha menyembunyikan perasaan ini pada siapapun. setelah beberapa kali ngobrol bareng ternyata dia adalah orang yang baik, nyambung,ya pokoknya dia adalah sosok aku kagumi.

semakin hari dia semakin deket dengan aku ya karena rumahku searah dengan rumahnya setiap pulang sekolah pasti bareng lama-lama jadi deket dech.

suatu ketika saat aku ingin pulang kerumah doni menemui aku dan langsung mengajakku ke taman deket sekolahku.

“ada apa don?” tanyaku penasaran

“em..em”

“am em am em, ada apa?”

“anu ah, sebenernya aku mau bilang kalo aku tu suka sama kamu, aku sadar kalo aku terlalu berharap banyak sama kamu Nin, tapi aku tak bisa membohongi perasaan ini. mau kah kamu jadian sama aku?” setelah kata-kata itu mengalir dari mulut doni perasaan bingung mulai menyandra otakku. aku tak tahu apa yang harus aku katakan pada doni, memang saat-saat seperti ini sangat aku nantikan tapi masih banyak hal lain yang membuatku harus berpikir untuk memberikan jawaban ke doni.

“Don..”

“aku ngerti kok, kamu tak perlu memberikan jawabanya sekarang. kamu boleh memberikan jawaban itu kapan saja, yang perlu kamu ingat aku sangat menantikan jawaban itu” ternyata doni bisa membaca apa yang ada dikepalaku.

“Oya udah sore nich! aku pulang duluan ya” pintaku

“boleh aku antar?” doni menawarkan jasa

“aku bisa sendiri kok, dah dulu ya da..” aku langsung menghilang dari hadapannya

Sesampainya di rumah pikiranku hanya tertuju pada satu hal yaitu jawaban apa yang harus aku berikan ke doni. ternyata kata-katanya tadi berulang-ulang bergulir di telingaku, wajahnya pun selalu terbayang di benakku. hari ini otakku terpaksa begadang sampai larut malam. setelah menuai keputusan mimpi langsung menjemputku.

“Pagi Nin!” sapa doni yang sudah stenby di depan rumahku.

“soal pertanyaanmu kemarin aku udah punya satu keputusa..”aku berlaga agak cuek sama doni, dia mulai kelihatan lemas melihat wajahku ini.

“Aku mau jadian sama kamu”

“apa Nin, serius!” dia seakan tidak percaya dengan yang ku katakan tadi

“ya aku serius!” setelah terucap kata itu doni langsung berteriak

“Ninda……….!!!aku suka kamu…..!!” aku jadi tersipu mendengar teriakkan itu

Mulai hari itu aku resmi jadian sama Doni.

“Nin!” panggil doni,tapi aku tetap terdiam dengan pandangan kosong

“Nin..Ninda..kamu ngalamun?”

“eh..e e engak kok, aku cuma kepikiran tugas-tugas untuk presentasi besok” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“ooo, ya udah! tu dah sampe rumah”

“aku pulang dulu ya don, sampe ketemu besok?da..”

Di halaman rumah aku baru teringat dengan niat ku tadi. karena tidak sabar langsung saja aku masuk ke dalam. spontan aku langsung kaget dengan keadaan rumah yang tidak karuan. pecahan-pecahan piring dan gelas kelihatan berserakan di ruang tamu. dengan hati-hati aku masuk ke dalam aku tambah kaget setelah mendengar pertengkaran antara ayah dan ibu.

“Ayah tak terima kalau sikap ibu seperti ini!” peringatan keras dari ayah meluncur keras

“keluyuran kemana-mana tak jelas, hal itu hanya menghambur-hamburkan uang apa ibu sadar dengan hal itu” tambah ayah. semakin lama suasana semakin mencekam aku hanya bisa menangis mendengar pertengkaran kedua orang yang sangat aku cintai itu.

“O jadi menurut ayah yang ibu lakukan ini salah! sadar yah, sadar! sejak ayah dipecat dari perusahaan siapa yang menafkahi keluarga ini? ibu yah, ibu!” dengan tetesan air mata yang terus mengalir ibu berbalik memberikan pernyataannya pada ayah.

“kalo seperti ini terus ibu sudah tak tahan yah, ibu pulang malam juga karena bekerja untuk mencari nafkah bukannya keluyuran” tambah ibu

“Sekarang mau ibu apa?” bentak ayah

“Pokoknya ibu minta cerai!” aku yang dari tadi terduduk lemas di samping kamar ayah dan ibu sudah tidak dengan pertengkaran ini spontanitas aku langsung menuju ke kamar mereka.

“sudah…..hentikan!!, jadi seperti ini kelakuan orangtua yang selalu aku banggakan di depan teman-temanku” sambil menahan isak tangis terlontarlah kata-kata itu.

“kalian memang sudah tak sayang lagi padaku, tak ada gunanya lagi aku berubah kalo tingkah kalian saja seperti ini, aku sudah muak dengan semua ini” tanpa basa-basi aku langsung berlari meninggalkan rumah. aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. hanya berlari dan berlari yang dapat aku lakukan sekarang.

awan mulai meneteskan airnya dengan deras tapi aku tak peduli. di bawah derasnya hujan aku tetap berlari. karna..

 

Anganku menghilang

Ditelan jurang kepedihan

Teringat yang tersayang

Ingin pergi tinggal kenangan

Kutak tahu mengapa

Semuanya telah sirna

Bagai cahaya yang telah redup

Tak sedikitpun nampak sinarnya

 

tanpa melihat keadaan sekitar aku tetap berlari, pandangan mulai kabur sementara itu dari arah yang berlawanan truk dengan kecepatan tinggi melaju dan tanpa tahu apa-apa tiba-tiba…

“Brak!!!”…..

“kring..kring..” dering telepon dirumah ku. ternyata ibu dan ayah masih bersikeras untuk bercerai mereka tak sedikit pun mempedulikan kepergianku. ayah meninggalkan rumah entah kemana sedang ibu hanya merintih di rumah.

“hallo” dengan suara sedih ibu mengangkat ganggang telepon

“kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan bahwa Ninda anak ibu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit Karang anyar”

“apa!” ibu terkejut mendengar kabar ini tubuhnya langsung lemas, dia baru sadar kalau selama ini lalai memberikan perhatian pada anaknya. tanpa basa-basi ia langsung menuju rumah sakit.

“bagaimana keadaan anak saya dok?” dengan nada cemas ibu bertanya

“saat ini dia dalam kondisi kritis, untuk itu banyak-banyaklah berdoa untuk keselamatan putri ibu” dokter memberikan keterangan.

beberapa menit kemudian ayah datang dan tampak tergesa-gesa

“bagaimana keadaan Ninda bu?” dengan penuh rasa cemas ayah bertanya

“dia dalam kondisi kritis, yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa untuk keselamatannya”

waktu terus bergulir penuh gejolak rasa cemas. setelah 6 jam menunggu akhirnya dokter memperbolehkan ayah dan ibu masuk ruang UGD. mereka kaget dan tercengang melikat keadaan anak semata wayangnya. seluruh tubuh Ninda tertutup perban hanya wajahnya saja yang tidak. melihat hal ini mereka tak kuasa menahan tangisnya

“Nin, maafin ibu nak? selama ini ibu selalu mengabaikanmu tak peduli bahkan ibu terlalu sibuk memikirkan pekerjaan.

“maafin ayah juga Nin, aku sadar tak bisa menjadi seorang ayah yang baik. tak bisa menafkahi keluarga, ayah juga sadar kalau selama ini terlalu egois pada kamu dan ibu”

ayah dan ibu menyadari kesalahan mereka masing-masing. takkan ada lagi perceraian, mungkin dengan ini mereka akan menemukan arti betapa pentingnya keutuhan keluarga

“yah! bu! tit………”

“Ninda………..!!!”

 

THE END

kasih coment dunk!

 

 

Penulis : Anas Ariffudin

Email : anasbanget@gmail.com

 

 

 

Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) Memperebutkan Lip Ice – Selsun Golden Award 2007

“dikutip dari: http://www.rohto.co.id/news_event.asp?id=3&idsub=10&artikelid=110

PT ROHTO Laboratories Indonesia
Kembali menyelenggarakan LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA 2007
Memperebutkan LIP ICE – SELSUN GOLDEN AWARD
Plus Hadiah Senilai Rp 80 JUTA

1. Peserta 3 (tiga) Kategori: Pelajar SLTP, Pelajar SLTA, dan Mahasiswa/Umum (Termasuk Guru)
2. Tiap peserta boleh mengirim lebih dari satu judul

Kategori Lomba

Lomba dibagi dalam 3 (tiga) kategori:

  1. Peserta Pelajar SLTP;

  2. Peserta Pelajar SLTA dan Kategori

  3. Peserta Mahasiswa/Umum (Termasuk Guru)

Syarat-syarat Lomba

  1. Lomba terbuka untuk pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Umum dari seluruh Indonesia atau yang sedang studi di luar negeri.

  2. Lomba dibuka tanggal10 Juli 2007 dan ditutup tanggal 10 Oktober 2007

  3. Tema cerita: Dunia remaja dengan segala aspek kehidupannya (antara lain tentang: cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan dan cita-cita, suka-duka persahabatan, hubungan antara anak dan orangtua/keluarganya, perjuangan hidup dan sebagainya)

  4. Judul bebas, tetapi harus mengacu pada Tema Butir 3

  5. Setiap peserta diperkenankan mengirimkan karya yang dilombakan lebih dari 1 (satu) judul

  6. Naskah wajib ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik, benar, indah (literer) serta kreatif-komunikatif. Bahasa gaul, slank dan bahasa daerah maupun asing hanya digunakan untuk dialog, tetrapi tidak untuk narasi

  7. Naskah yang dilombakan harus asli (bukan jiplakan atau terjemahan karya asing) dan belum pernah dipublikasikan serta tidak sedang diikutsertakan dalam lomba serupa yang bukan diselenggarakan oleh PT ROHTO Laboratories Indonesia

  8. Ketentuan naskah yang dilombakan:

  • Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik berjarak 1,5 spasi, 12 point, font Times New Roman, margin-kiri kanan rata (Normal + Justified)

  • Panjang naskah minimal 6 (enam) halaman, maksimal 10 (sepuluh) halaman

  • Naskah yang dlombakan dikirim ke Panitia LMCR-2007 dalam bentuk print-out 3 (tiga) rangkap disertai copu file dalam bentuk disket atau CD

  • Naskah disertai sinopsis (ringkasan cerita); mini-biodata pengarang, foto-copy indentitas (pilih salah satu: KTP atau SIM/Paspor/Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar yang masih valid) dan foto berwarna pose bebas/rileks ukuran 4R

  • Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri salah satu kemasan produk dari PT ROHTO Laboratories yaitu LIP ICE jenis apa saja atau seal (segel) pengaman SELSUN.

  • Naskah yang dilombakan beserta persyaratannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup (dilem rapat), cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2007 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD pada kiri atas amplop. Tulis pula kategorinya.

  • Berkas Butir f dikirim ke alamat Panitia LMCR-2007 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD: Jalan Gunung Pancar No.25, Bukit Golf Hijau, Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat.

  • Hasil lomba diumumkan 10 November 2007 melalui www.rohto.co.id dan Majalah ANEKA YESS!, atau hubungi HP No. 08158118140

  1. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat

  2. Naskah yang dilombakan jadi milik PT ROHTO Laboratories Indonesia. Hak cipta milik pengarangnya

     

Hasil Lomba

  • Masing-masing kategori pemenangnya terdiri dari: Pemenang I, II II dan 5 (lima) Pemenang Harapan Utama serta 10 (sepuluh) Pemenang Harapan.

Kategori A (Pelajar SLTP):

  • Pemenang I – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Lip Ice-Selsun Golden Award;

  • Pemenang II – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam Lip Ice-Selsun;

  • Pemenang III – Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam Lip Ice-Selsun.

  • Sekolah/Universitas “Pemenang I, II dan III berhak mendapatkan 1 (satu) unit mesin tulis elektrik”

  • Pemenang Harapan Utama 5 (lima) orang, masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam Lip Ice-Selsun dan

  • 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2006 + Piagam Lip Ice-Selsun.

Kategori B (Pelajar SLTA):

  • Pemenang I – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + Lip Ice-SelsunGolden Award;

  • Pemenang II – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam Lip Ice-Selsun;

  • Pemenang III – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam Lip Ice-Selsun.

  • Sekolah/Universitas “Pemenang I, II dan III berhak mendapatkan 1 (satu) unit mesin tulis elektrik”

  • Pemenang Harapan Utama 5 (lima) orang, masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam Lip Ice-Selsun dan

  • 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2006 + Piagam Li Ice-Selsun.

Kategori C (Mahasiswa/Umum):

  • Pemenang I – Uang Tunai Rp 7.500.000,- + Lip Ice-Selsun Golden Award;

  • Pemenang II – Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam Lip Ice-Selsun;

  • Pemenang III – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + Piagam Lip Ice-Selsun.

  • Pemenang Harapan Utama 5 (lima) orang, masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam Lip Ice Selsun dan

  • 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Pemenang LMCR-2006 + Piagam Lip Ice Selsun

*) Pajak hadiah para pemenang ditanggung PT ROHTO Laboratories Indonesia

 

Jakarta, 10 Juli 2007

Ketua Panitia LMCR-2007

 

Dra. Naning Pranoto, MA

Ditulis dalam Info Lomba. 10 Komentar »