Hama dan Penyakit Ikan Lele

Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.

Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

Jenis hama/penyakit

1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla

Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.

Gejala: lele yang terkena bakteri ini: warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.

Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.

Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.

2. Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum

Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.

Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.

Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.

3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.

Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.

Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.

Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.

4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)

Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.

Gejala:

(1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;

(2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;

(3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.

Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.

Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari

5. Penyakit cacing Trematoda

Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.

Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.

Pengendalian:

(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;

(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;

(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;

(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;

(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.

6. Parasit Hirudinae

Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.

Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.

Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.

Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :

1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.

2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.

3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.

4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.

Sumber : http://www.pustakatani.org/InfoTeknologi

Ditulis dalam Perikanan. 49 Komentar »

Tanggal 25 Agustus 2007

Kegiatanku hari ini hanya menyusun skripsi laporan.

BUDIDAYA LELE SANGKURIANG(Clarias sp.)

Sumber : Departemen Kelautan dan Perikanan

http://www.dkp.go.id/content.php?c=2558

BUDIDAYA LELE SANGKURIANG

(Clarias sp.)

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.

Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).

Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele “Sangkuriang”.

Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama “Lele Sangkuriang”. Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).

Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m – 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi. Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.

Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.

Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:

  1. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.

  2. pH air yang ideal berkisar antara 6-9.

  3. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.

Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.

Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik). Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.

Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran. Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki. Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk “L” mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.

Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Pelaksanaan Budidaya
Sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:

a.

Persiapan kolam tanah (tradisional)
   

Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran. Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor).

   

Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).

   

Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.

   

Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.

   

Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring

   

Kemudian dilakukan pengisian air kolam.

   

Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.

b.

Persiapan kolam tembok
 

Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.

c. Penebaran Benih
 

Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.

 

Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.

d.

Pemberian Pakan
 

Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.

e.

Pemanenan
 

Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 – 250 gram per ekor dengan panjang 15 – 20 cm. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit. Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah ikan dapat ditangkap atau diangkat. Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum ikan-ikan tersebut diangkut untuk dipasarkan.

Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.

Kegiatan budidaya lele Sangkuriang di tingkat pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembesaran, penyakit banyak ditimbulkan akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan. Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain ular dan belut. Sedangkan organisme pathogen yang sering menyerang adalah Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp. dan Dactylogyrus sp.

Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan plastik di sekeliling kolam.

Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.

Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disenfeksi (bila diperlukan), pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan bahan probiotik.

Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit, maka hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Pindahkan segera ikan yang memperlihatkan gejala sakit dan diobati secara terpisah. Ikan yang tampak telah parah sebaiknya dimusnahkan.

  • Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.

  • Kolam yang telah terjangkit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 1 kg/5 m2. Kapur (CaO) ditebarkan merata didasar kolam, kolam dibiarkan sampai tanah kolam retak-retak.

  • Kurangi kepadatan ikan di kolam yang terserang penyakit.

  • Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. Sebelum dipakai lagi sebaiknya dicelup dulu dalam larutan Kalium Permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).

  • Setelah memegang ikan sakit cucilah tangan kita dengan larutan PK

  • Bersihkan selalu dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organik

  • Usahakan agar kolam selalu mendapatkan air segar atau air baru.

  • Tingkatkan gizi makanan ikan dengan menambah vitamin untuk menambah daya tahan ikan.

ANALISA USAHA
Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik

1.

Investasi
 

a.

Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,-

=

Rp

1.000.000,-

 

b.

Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,-

=

Rp

1.500.000,-

 

c.

Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,-

=

Rp

750.000,-

       

Rp

3.250.000,-

2.

Biaya Tetap
 

a.

Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn

=

Rp

1.000.000,-

 

b.

Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn

=

Rp

750.000,-

 

c.

Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn

=

Rp

150.000,-

       

Rp

1.900.000,-

3.

Biaya Variabel      
 

a.

Pakan 4800 kg @ Rp 3700

=

Rp

17.760.000,-

 

b.

Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,-

=

Rp

2.021.052,63

 

c.

Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,-

=

Rp

300.000,-

 

d.

Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,-

=

Rp

200.000,-

 

e.

Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,-

=

Rp

3.000.000,-

 

f.

Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,-

=

Rp

1.200.000,-

       

Rp

24.281.052,63

4.

Total Biaya

     
  Biaya Tetap + Biaya Variabel      
 

=

Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63      
 

=

Rp 26.181.052,63      

5.

Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,

6.

Pendapatan      
  Produksi - (Biaya tetap + Biaya Variabel)      
 

=

Rp 28.800.000,- – ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)
 

=

Rp 2.418.947,37      

7.

Break Event Point (BEP)      
  Volume produksi

=

4.396,84 kg
  Harga produksi

=

Rp 5.496,05

Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya

Pengunjung yang terhormat, untuk melihat Alamat Dinas /sekter pengolahan dan pemasaran hasil pertanian (perikanan, peternakan, dll) di nusantara. Silakan klik alamat ini : http://agribisnis.deptan.go.id/Pustaka/alamat%20kabputen%20(JULI).htm

Ditulis dalam Perikanan. 71 Komentar »

Tanggal 24 Agustus 2007

Hari ini kami berempat ikut seminar makromedia flash 8 dan menjaga lab.

Tanggal 23 Agustus 2007

Hari ini kegiatanku hanya menyusun laporan dan nyari-nyari bahan dari internet.

Teknologi Pembenihan Ikan Nila

ikan nila

Teknik pembenihan yang tepat dengan kualitas benih yang unggul

Bahan dan Peralatan
- Sarana pembenihan dapat berupa kolam atau bak, keramba, dan kolam sawah.
- Wadah pemeliharaan induk di kolam/KJA berbentuk empat persegi panjang/bujur    sangkar, tidak luas, dalam dan tertutup. Desain untuk pemijahan dan penampungan di    kolam berbentuk persegi panjang dangkal dan tidak luas.
- Desain tempat pemeliharaan induk dan pemijahan di kolam kedalaman 1,2 m di bagian    terdangkal dan 1,4 m di bagian terdalam dengan luas minimum 0,2 Ha.
- Induk ikan nila

Pedoman Teknis
a. Persiapan
- Induk ikan nila yang selama pemeliharaan diberi pakan bermutu tinggi dalam jumlah    yang  cukup dan sudah didesinfeksi agar bebas dari jasad penyakit.
- Induk jantan yang telah matang gonad berwarna hitam kelam, bagian dagu putih, alat    kelamin meruncing dengan warna putih bersih dan ujung sirip ekor dan sirip punggung    berwarna merah cerah. Induk betina yang telah matang gonad mempunyai badan yang    berwarna hitam kelam, bagian dagu putih.
- Induk harus sudah memijah tidak lebih dari 6 kali.
- Kolam hendaknya dengan dasar pasir.

b. Pemijahan
- Ikan nila dapat dipijahkan secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon), semi    buatan (dengan pemberian rangsangan hormon dengan proses ovulasi secara alamiah),    dan buatan (dengan pemberian rangsangan hormon dengan proses ovulasi dan    pembuahan dilakukan secara butan).
- Rangsangan agar induk dapat memijah dapat dilakukan dengan cara manipulasi    lingkungan seperti pengeringan kolam, pengaliran air baru dan pemberian lumpur pada dasar kolam atau dengan cara hormonal/teknik hipofisasi.
- Setelah induk ikan betina memijah maka di dalam kolam yang telah disterilisai, induk-induk ikan tersebut diberi kejutan agar segera mengeluarkan telur yang dierami di dalam mulutnya ke media wadah.
- Telur ditetaskan ditempatkan dalam media wadah dan induk dikembalikan kedalam kolam pemijahan.

c. Penetasan telur
- Penetasan sebaiknya dilakukan di dalam akuarium/kontainer dengan kondisi lingkungan yang menyerupai mulut ikan nila.
- Wadah penetasan telur harus bersih dan telah dikeringkan 1-2 hari, dan telah direndam dengan larutan KMnO4 dengan dosis 20 ppm atau Malachit 5-10 ppm selama 15-30 menit. Air yang digunakan harus berkualitas baik dan baru seperti dari sumber air, sumur, air irigasi yang telah difilter. Aliran air dengan debit 10-15 l/menit. Pemeliharaan larva dan benih dipersiapkan secara cermat.

Sumber :  http://www.indonext.com/report/

Ditulis dalam Perikanan. 1 Komentar »

Pembenihan Ikan Tawes

Pembenihan Ikan Tawes (Puntius Javanicus. Blkr)

Penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah cukup dan kontinyu merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan budidaya ikan konsumsi.

Usaha pembenihan banyak dilakukan di Kabupaten Magelang, seperti di Desa Paremono Kecamatan Mungkid oleh karena didukung ketersediaan air cukup baik musim kemarau maupun penghujan. Disamping itu usaha pembenihan dirasa lebih rnenguntungkan karena waktu yang digunakan relatif singkat kurang lebih 3 minggu – 1 bulan, serta pemasarannya pun mudah.

Pembenihan ikan tawes ada beberapa cara yaitu pembenihan ikan di kolam, pembenihan di sawah dan pembenihan di hapa.

Pengalaman Pembenihan Ikan Tawes di kolam yang dilakukan oleh MARZANI KTNA Paremono Mungkid ternyata cukup menggembirakan.

Pelaksanaan Pembenihan di kolam

1. Pemilihan Induk

Untuk mendapatkan benih yang berkualitas dan jumlah yang banyak dalam pembenihan Tawes perlu dipilih induk yang baik dengan ciri-ciri :
- Letak lubang dubur terletak relatif lebih dekat ke pangkal ekor
- Kepala relatif lebih kecil dan meruncing
- Sisik-sisiknya besar dan teratur
- Pangkal ekor lebar dan kokoh
- Pada umumnya ikan tawes jantan mulai dipijahkan pada umur kurang lebih 1 tahun, dan induk tawes betina pada umur kurang lebih 1,5 tahun.

ikan tawes

Untuk mengetahui bahwa induk ikan tawes telah matang kelamin dan siap untuk dipijahkan dengan tanda-tanda sebagai berikut :

a) Induk betina

- Perutnya mengembang kearah genetal (pelepasan) bila diraba lebih lembek
- Lubang dubur berwarna agak kemerah-merahan
- Tutup insang bila diraba lebih licin
- Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan kehitam-hitaman.

b) lnduk jantan

- Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan berwarna keputih-putihan    (sperma)
- Tutup insang bila diraba terasa kasar

2. Persiapan Kolam

Kolam pemijahan ikan tawes sekaligus merupakan kolam penetasan dan kolam pendederan. Sebelum dipergunakan untuk pemijahan, kolam dikeringkan.
Perbaikan pematang dan dasar kolam dibuat saluran memanjang (caren/kamalir) dari pemasukan air kearah pengeluaran air dengan lebar 40 cm dan dalamnya 20-30 cm.


3. Pelepasan Induk


Induk ikan tawes yang telah terpilih untuk dipijahkan kemudian diberok, pemberokan dengan penempatan induk jantan dan betina secara terpisah selama 4-5 hari
Setelah diberok kemudian induk ikan dimasukkan ke kolam pemijahan yang telah dipersiapkan
Pemasukan induk ke kolam pada saat air mencapai kurang lebih 20 cm
Jumlah induk yang dilepas induk betina 25 ekor dan induk jantan 50 ekor
Pada sore hari kurang lebih pukul 16.00 air yang masuk ke kolam diperbesar sehingga aliran air lebih deras.
Biasanya induk ikan tawes memijah pada pukul 19.00-22.00
Induk yang akan memijah biasanya pada siang hari sudah mulai berkejar-kejaran di sekitar tempat pemasukan air.

4. Penetasan Telur

Setelah induk ikan tawes bertelur, air yang masuk ke kolam diperkecil agar telur-telur tidak terbawa arus, penetasan dilakukan di kolam pemijahan juga
Pagi hari diperiksa bila ada telur-telur yang rnenumpuk di sekitar kolam atau bagian lahan yang dangkal disebarkan dengan mengayun-ayunkan sapu lidi di dasar kolam
Telur ikan tawes biasanya menetas semua setelah 2-3 hari
Dari ikan hasil penetasan dipelihara di kolam tersebut selama kurang lebih 21 hari.


5. Pemungutan hasil (benih ikan)

- Panen dilakukan pada pagi hari
- Menyurutkan/mengeringkan kolam
- Setelah benih berada dikamalir/dicaren, benih ditangkap dengan menggunakan waring    atau seser
- Benih ditampung di hapa yang telah ditempatkan di saluran air mengalir dengan aliran    air tidak deras
- Benih lersebut selanjutnya dipelihara lagi di kolam pendederan atau dijual.

6. Pendederan

- Mula-mula kolam dikeringkan selama 2-3 hari
- Perbaikan pematang, pembuatan caren/saluran
- Dasar kolam diolah dicangkul, kemudian dipupuk dengan Urea & SP 36 1 0 gr/m2 dan    pupuk kandang 1 – 1,5 kg/m2 tergantung kesuburannya.
- Setelah kolam dipupuk kemudian diairi setinggi 2-3 cm dan dibiarkan 2-3 hari    kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman 50 cm
- Kemudian benih ditebar di kolam pendederan dengan padat tebar 10-20 ekor/m2
- Pemeliharaan dilakukan kurang lebih 3 minggu – 1 bulan.
- Selanjutnya dapat dipanen dan hasil benih dapat dijual atau ditebar lagi di kolam    pendederan II.

sumber : http://www.indonext.com/report/

Ditulis dalam Perikanan. 2 Komentar »

Tanggal 22 Agustus 2007

Kegiatan hari ini hanya ndongkrok di depan komputer (tak jelas mempelajari apa cos saking banyaknya) pokoknya belajar.

Pengorbanan Yang Terlalaikan

“Blung!!!”Suara granat musuh usik telinga

Sekali, dua kali, dan makin menjadi

Barisan kawan hilang satu sisi, benar!

Mayat yang terkelepar itu temanku

Meski batalion kami kalah amunisi, tapi

Bermodalkan sebatang bambu,

Bergejolaknya semangat

Membuat kami tak takut mati

Jantung semakin cepat memacu detak

Darah menyatu andrenalin

Menunggu…

Itu yang kami lakukan kini

Kapten berstrategi spontan

Mencari celah serang mematikan

Tembakan kian sepi

Granat tak terdengar lagi

Kesempatan ini adalah berkah

“Serang..!!!”

Suara kapten lantang menggelegar

Batalion negri balik menyerang

Bambu lawan pedang

Kolonialisme lawan patriotisme

Tak disangka tak terduga

Bambu runcing usir penjajah

Patriotisme menyublim kolonialisme

Ini bukan kebetulan…

Tapi ini kenyataan perjuangan

Juga kehendak Tuhan

Saat Sang Merah Putih di kibarkan

Tetesan haru mengucur deras

Dengan tegap kami menangis hormat

“Kita Merdeka!!!”

Begitu bangganya nusantara menyerukanya

Masa penjajahan,

Tak mudah mengibarkan bendera negri sendiri

Butuh pengorbanan nyawa pahlawan pemberani

Kini,

Negri ini mulai berdiri

Semua sektor diperbaiki

Rumah hingga kota megah telah menghiasi

Tradisional menuju modern

Mesin-mesin pun telah memadati

Makin lama bebas aktif

Makin terkikis pula rasa yang seharusnya ada

Pejuang yang terjun ke medan perang

Pengorbananya mulai terlalaikan

“Tak masalah tidak dihargai, yang penting aman”

Begitu veteran pejuang berucap

“Benar!”

Mereka dapat penghargaan dan pensiunan,

Tapi kadang semuanya tak sebanding dengan yang mereka lakukan

Saat nusantara dijajah,

Mereka memperjuangkan kemerdekaan

Tapi usai merdeka,

Mereka masih juga berjuang,

Berjuang pertahankan hidup

Apakah ini adil untuk mereka?

Inilah perjuangan besar yang terlalaikan

“Hey…!”

Sadar dan bangunlah

Mulailah kita pikirkan

Agar perjuangan tak lagi terabaikan

Di Sudut Ruangan

Mata memandang meneropong ruangan

Kamar kusam jaman nenek moyang

Tampak sebuah cermin belah di sebelah gapyak jati

Sekilas ku terpana

Berkacaku pada cermin sambil pegang lukisan mungil

Tampak jelas kematian yang mengerikan

Gapyak di kaki menjadi saksi tragedi

Di sudut kamar nyawanya melayang